Nama : Intan Febri Layyinah
NIM : (130731615706)
Prodi : Pendidikan Sejarah
2013
Off/Kelompok : D/8 (Kerajaan Sunda Kuno)
1.
PUSAT
KERAJAAN PAKWAN PAJAJARAN
Ningrat Kancana atau Tohaan di Galuh digantikan
oleh anaknya sendiri yang bernama Sang Ratu Jayadewata. Pada prasasti
Kebentenan, tokoh ini disebutkan sebagai “yang kini menjadi susuhunan di Pakwan
Pajajaran”, tokoh ini pula yang pada prasasti Batutulis disebut dengan nama
Prabu Guru Dewataprana.
Sejak masa pemerintahannya, pusat kerajaan telah
beralih lagi dari Kawali dengan keratonnya yang bernama Surawisesa ke Pakwan
Pajajaran. Baik keraton Kawali maupun keraton Pakwan Pajajaran sama – sama
mengandung unsur sura, suatu hal yang
masih dilanjutkan pada nama keraton Banten, yaitu surasowan dan surakarta
atau jayakarta untuk tempat yang
sebelum jatuh ke tangan Islam bernama Sunda Kelapa. Prasasti Kebantenan
menyebutkan usaha Jayadewata untuk membuat daerah kependetaan bernama Jayagiri
dan Sunda Sembawa. Hal ini dapat ditafsirkan sebagai usahanya untuk lebih
menggiatkan usaha pengajaran keagamaan.
Sang Ratu Jayadewata menjalankan
pemerintahannya berdasarkan kitab – kitab hukum yang berlaku, sehingga
pemerintahannya berjalan dengan aman dan tentram. Pada masa itu tidak terjadi
perang, jika ada rasa tidak aman, hal itu hanya terjadi pada mereka yang berani
melanggar Sanghyang Siksa.
Pada masa pemerintahan Sang Ratu Jayadewata,
sudah ada penduduk kerajaan Sunda yang beralih agama. Berita Portugis
mengatakan bahwa di Cimanuk, yakni kota pelabuhan yang sekaligus merangkap
menjadi batas kerajaan Sunda disebelah timur, banyak dijumpai orang Islam.
Mereka inilah yang munkin dalam Carita
Parahyangan disebutkan merasa tidak aman karena melanggar Sanghyang Siksa.
Pengaruh Islam memang belum sampai ke pusat
kerajaan, namun Sang Ratu Rajadewata sudah mengantisipasinya dengan mencari,
sekutu yakni Portugis yang ketika itu sudah menduduki Malaka. Oleh berita
Portugis dikatakan bahwa pada tahun 1512 M dan 1521 M, Ratu Samiam (Sanghyang)
dari kerajaan Sunda memimpin perutusan ke Malaka, tetapi pada tahun 1522 M
Hendrik de Leme memimpin perutusan Portugis ke Sunda yang beribu kota di Dayo,
Ratu Samiam sudah berkuasa sebagai raja. Jika hal ini dihubungkan dengan Carita Parahyangan, berarti Ratu Samiam
adalah seorang raja yang gagah dan berani yang menggantikan Sang Ratu
Jayadewata dan memerintah selama 14 tahun (1521–1535 M). Ini berarti bahwa pada
waktu memimpin perutusan ke Malaka, kemungkinan terbesar adalah Ratu Samiam
atau Surawisesa ini menduduki jabatan sebagai putra mahkota.
Ketika banyak penyerbuan terjadi, yang menjadi
Raja adalah Prabu Ratudewata (1535–1543 M). Masa pemerintahannya diakui sebagai
masa yang penuh derita. Beberapa kali pasukan Islam berusaha merebut ibu kota
kerajaan, tetapi usahanya belum berhasil dan akhirnya tentara Islam memperoleh
kemenangan pada tahun 1559 M. Serangan – serangan itu dipimpin langsung oleh
Maulana Hasanuddin yang dibantu oleh anaknya, Maulana Yusuf.
Di dalam Carita
Parahyangan dan naskah Purwaka Caruban Nagari dikatakan bahwa sekitar abad
XV Masehi, di Cirebon telah ada perguruan Islam, jauh sebelum Syarif
Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dilahirkan. Pada masa itu memang diduga
Cirebon sudah merupakan sebuah kota yang cukup ramai, dengan penduduknya
campuran antara orang – orang Sunda dan orang – orang Jawa.
Jatuhnya Sunda Kelapa, pelabuhan terbesar
keajaan Sunda ke tangan pasukan Islam pada tahun 1527 M, telah menyebabkan
terputusnya hubungan antara pusat kerajaan Sunda yang terletak di pedalaman,
dengan daerah luar. Bala bantuan Portugis tidak pernah dapat sampai ke Dayo,
karena keadaan pada waktu itu tidak memungkinkan. Jalan niaga kerajaan Sunda
satu persatu jatuh ke tangan pasukan Islam, sehingga raja hanya dapat bertahan
di pedalaman.
Dalam keadaan seperti itu, kerajaan Sunda
justru sudah tidak punya lagi pemimpin yang meyakinkan. Prabu Ratudewata yang
menggantikan Surawisesa, malah hidup sebagai raja pendeta, dan tidak
menghiraukan kesejahteraan rakyatnya. Pada masa pemerintahannya itulah terjadi
serangan – serangan yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Raja
penggantinya yakni Sang Ratu Saksi yang merupakan seorang yang kejam dan suka
main perempuan. Demikian pula pengganti Sang Ratu Saksi, Tohaan di Majaya yang
malah memperindah keraton, mabuk – mabukan, berfoya – foya, dan melupakan
tugasnya sebagai raja. Pada masa
pemerintahan raja terakhir yakni Nusiya Mulya, kerajaan pun sudah tidak mungkin
dipertahankan lagi. Kerajaan Sunda dikalahkan oleh Islam pada masa akhir
pemerintahannya.
Di bidang politik, Jayadewata juga melakukan
tindakan – tindakan yang cukup tegas di dalam usahanya menghadapi meluasnya
Islam didaerahnya. Ia melakukan hubungan dengan Portugis, yang sejak tahun 1511
M telah menguasai bandar Malaka. Selain untuk menyelamatkan pernaiagaan Sunda,
juga hubungan itu dimaksudkan untuk menyelamatkan kerajaan sunda secara umum.
Hubungan dengan portugis sudah dimulai pada tahun 1512 M, ketika Jayadewata
mengirimkan perutusan yang dipimpin oleh Ratu Samiam (Sanghyang) yang meminta
bantuan kepada Alfonso d’Albuquerque, penguasa bandar Malaka. Ratu Samiam untuk
kedua kalinya datang ke Malaka pada tahun 1521 M dengan maksud yang sama,
tetepi pada waktu itu penguasa Malaka sudah diganti oleh Jorge d’Albuquerque.
Sebagai kunjungan balasan, juga dalam rangka
persetujuan diantara kedua belah pihak, pada tahun 1522 M pihak Portugis
mengirimkan Hendrik de Leme untuk memimpin perutusan ke Sunda. Jayadewata
digantikan oleh Surawisesa setelah ia
berkuasa selama 39 tahun. Pada tahun 1521 M adalah akhir masa pemerintahan
Jayadewata menurut perhitungan yang didasarkan pada pada tahun 1579 M sebagai
tahun terakhir pemerintahan raja Sunda Nusiya Mulya yang memerintah selama 12
tahun.
Dari berita itu dapat pula dipastikan bahwa Surawisesa
menurut Carita Parahyangan adalah
Ratu Samiam. Ini berarti bahwa Ratu Samiam sebelum naik takhta mempunyai
kedudukan yang cukup tinggi, dan kemungkinan besar sebagai putra mahkota.
Sebagai putra mahkota, ia berkuasa di daerah Sangiang, yaitu daerah yang
tetrletak di sekitar Jatinegara. Walaupun belum jelas ia anak raja atau bukan,
namun dalam hal raja Sunda yang tidak memiliki anak, penggantinya dipilih dari
raja – raja daerah yang paling besar dan penting, karena Kalapa adalah bandar
kerajaan Sunda yang terpenting dan terbesar sehingga raja daerahnya juga tidak
mustahil mempunyai kesempatan terbesar untuk menjadi raja seandainya raja yang
bertakhta di Dayo atau Pakwan Pajajaran tidak memiliki anak.
Perjanjian yang diselenggarakan antara Portugis
dan Sunda berlangsung ketika Ratu Samiam atau Surawisesa berkuasa. Perjanjian
itu terjadi pada tanggal 21 Agustus 1522 M, isinya adalah pernyataan pihak
Portugis untuk membantu kerajaan Sunda jika sewaktu – waktu kerajaan ini
diserang oleh orang Islam. Sebagai imbalannya, pihak Portugis diperkenankan
mendirikan benteng di bandar Banten, dan diberi hak untuk memperoleh lada
sebanyak 350 kuintal setiap tahunnya. Dari pihak Sunda yang menandatangani
perjanjian tersebuat adalah raja Sanghyang sendiri.
Walaupun sebelumnya sudah ditetapkan bahwa loji
Portugis akan didirikan di Banten, kenyataannya mereka memilih Kalapa sebagai tempat
yang cocok untuk pendirian loji tersebut. Di tempat yang mereka pilih itu,
mereka dirikan sebuah padrao, yang
letaknya di tepi sebelah timur muara Sungai Ciliwung. Ternyata benteng atau
loji itu tidak pernah berhasil mereka dirikan. Hal ini disebabkan perjanjian
tersebut baru tiba di Kalapa pada tahun 1527 M, ketika itu Kalapa sudah
dikuasai oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Feletehan. Usaha - usaha untuk merebutnya dari tangan Islam
oleh pihak Portugis tidak pernah berhasil, sehingga benteng portugis itu pun
tidak pernah didirikan. Sementara mengharapakan bantuan Portugis yang tidak pernah
tiba itu, Surawisesa terpaksa berperang sendiri melawan pasukan Islam.
Masa pemerintahan Surawisesa yang hanya 14
tahun itu (1521-1535 M), ia berperang sabanyak 15 kali, dan tidak pernah
mengalami kekalahan. Raja penggantinya yakni Prebu Ratudewata (1535-1543 M),
pada masa pemerintahannya benyak sekali tentara musuh yang datang menyerbu,
sehingga terjadilah pertempuran. Dalam pertempuran tersebut, gugur Tohaan
Sarendet dan Tohaan Ratu Sanghyang. Dapat diperkirakan bahwa Tohaan Ratu
Sanghyang yang gugur ini adalah raja daerah Sanghyang yang menggantikan
kedudukan Surawisesa setelah ia menjadi raja pusat. Kekacauan itu meliputi
daerah yang cukup luas sehingga terjadi juga di Ciranjang dan Sumedang,
sementara daerah kependetaan yang diresmikan oleh Ratu Jayadewata di Jayagiri
dibenamkan ke laut.
Pada masa Sang Ratu Saksi, Carita Parahyangan tidak memberikan uraian terjadinya perang. Namun
jika diingat, bahwa pada tahun 1546 M seluruh kekuatan kerajaan Demak
dikerahkan untuk menyerbu dan menaklukkan Pasuruan. Demak juga mengikutsertakan
armada Banten dan Cirebon yang dipimpin oleh Ki Fadhillah yang ketika itu sudah
diangkat menjadi raja di Kalapa sebagai wakil Sultan Demak. Sang Ratu Saksi
yang berkuasa selama 8 tahun itu (1543-1551 M) meninggal di Pengpelangan,
kemudian digantikan oleh Tohaan di Majaya (1551-1567 M). Karena kalah perang,
raja ini kemudian meninggalkan ibu kota kerajaan walaupun sebelumnya ia telah
memperindah keraton.
Pada masa pemerintahan raja yang terakhir yakni
Nusiya Mulya, keadaan sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Perubahan ditengah
penduduk makin terasa, terutama yang disebabkan oleh datangnya Islam. Pada masa
pemerintahannya itulah Islam mulai memperoleh kemenangan demi kemenangan dalam
perang – perang yang dilakukannya. Satu persatu daerah Rajagaluh, Kalapa,
Pakwan, Galuh, bahkan Portugis berhasil dikalahkan oleh Islam. Bersamaan dengan
itu, tamat pula riwayat kerajaan Sunda sebagai salah satu benteng terakhir
budaya Hindu-Buddha di Indonesia pada tahun 1579 M.
2.
KEADAAN
MASYARAKAT DI BIDANG KESENIAN
Di
dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian dapat diketahui adanya
orang-orang yang dipandang ahli disalah satu bidang kesenian, misalnya sastra,
lukis, ukir, dan gamelan. Orang yang mengetahui berbagai macam cerita disebut memen, sedangkan cerita – cerita yang
diketahuinya antara lain Damarjati,
Sanghyang Bayu, Pu Jayakarma, Ramayana, Adiparwa, Ranggalawe, Tantri, dll.
Jenis
– jenis kawih seperti kawih bwatuha, kawih panjang, kawih
lalanguan, dll. Ada juga macam – macam permainan yang disebut pameceuh yakni tatapukan, ubang-ubangan, ngadu lesung, ngadu nini, dll. Ada pula carita pantun yang merupakan cerita asli
berasal dari Sunda dengan ahlinya disebut prepantun,
dan pantun – pantunnya yaitu Langgalarang,
Banyakcatra, Hatur Wangi, dan Siliwangi.
Mengingat
bahwa pada awal abad XVI M Siliwangi sudah dikenal sebagai salah seorang tokoh
dalam carita pantun, ada kemungkinan
bahwa Prabu Siliwangi adalah raja terbesar kerajaan Pajajaran menjelang
masuknya Islam. Namun tidak ada satupun sumber sejarah yang menyebutkan salah
seorang raja Sunda bernama Prabu Siliwangi. Niskala Wastu Kancana yang sudah
meninggal 40 tahun sebelum naskah ini ditulis itulah yang mungkin dianggap
sebagai Siliwangi.
Jenis
– jenis batik adalah kekembangan,
alas-alasan, urang-urangan, kembang terate, dll. Ahlinya disebut lukis.