Jumat, 29 November 2013

SUNDA KUNO


Nama                          : Intan Febri Layyinah        
NIM                            : (130731615706)                  
Prodi                           : Pendidikan Sejarah 2013
Off/Kelompok            : D/8 (Kerajaan Sunda Kuno)

      1.            PUSAT KERAJAAN PAKWAN PAJAJARAN
Ningrat Kancana atau Tohaan di Galuh digantikan oleh anaknya sendiri yang bernama Sang Ratu Jayadewata. Pada prasasti Kebentenan, tokoh ini disebutkan sebagai “yang kini menjadi susuhunan di Pakwan Pajajaran”, tokoh ini pula yang pada prasasti Batutulis disebut dengan nama Prabu Guru Dewataprana.
Sejak masa pemerintahannya, pusat kerajaan telah beralih lagi dari Kawali dengan keratonnya yang bernama Surawisesa ke Pakwan Pajajaran. Baik keraton Kawali maupun keraton Pakwan Pajajaran sama – sama mengandung unsur sura, suatu hal yang masih dilanjutkan pada nama keraton Banten, yaitu surasowan dan surakarta atau jayakarta untuk tempat yang sebelum jatuh ke tangan Islam bernama Sunda Kelapa. Prasasti Kebantenan menyebutkan usaha Jayadewata untuk membuat daerah kependetaan bernama Jayagiri dan Sunda Sembawa. Hal ini dapat ditafsirkan sebagai usahanya untuk lebih menggiatkan usaha pengajaran keagamaan.
Sang Ratu Jayadewata menjalankan pemerintahannya berdasarkan kitab – kitab hukum yang berlaku, sehingga pemerintahannya berjalan dengan aman dan tentram. Pada masa itu tidak terjadi perang, jika ada rasa tidak aman, hal itu hanya terjadi pada mereka yang berani melanggar Sanghyang Siksa.
Pada masa pemerintahan Sang Ratu Jayadewata, sudah ada penduduk kerajaan Sunda yang beralih agama. Berita Portugis mengatakan bahwa di Cimanuk, yakni kota pelabuhan yang sekaligus merangkap menjadi batas kerajaan Sunda disebelah timur, banyak dijumpai orang Islam. Mereka inilah yang munkin dalam Carita Parahyangan disebutkan merasa tidak aman karena melanggar Sanghyang Siksa.
Pengaruh Islam memang belum sampai ke pusat kerajaan, namun Sang Ratu Rajadewata sudah mengantisipasinya dengan mencari, sekutu yakni Portugis yang ketika itu sudah menduduki Malaka. Oleh berita Portugis dikatakan bahwa pada tahun 1512 M dan 1521 M, Ratu Samiam (Sanghyang) dari kerajaan Sunda memimpin perutusan ke Malaka, tetapi pada tahun 1522 M Hendrik de Leme memimpin perutusan Portugis ke Sunda yang beribu kota di Dayo, Ratu Samiam sudah berkuasa sebagai raja. Jika hal ini dihubungkan dengan Carita Parahyangan, berarti Ratu Samiam adalah seorang raja yang gagah dan berani yang menggantikan Sang Ratu Jayadewata dan memerintah selama 14 tahun (1521–1535 M). Ini berarti bahwa pada waktu memimpin perutusan ke Malaka, kemungkinan terbesar adalah Ratu Samiam atau Surawisesa ini menduduki jabatan sebagai putra mahkota.
Ketika banyak penyerbuan terjadi, yang menjadi Raja adalah Prabu Ratudewata (1535–1543 M). Masa pemerintahannya diakui sebagai masa yang penuh derita. Beberapa kali pasukan Islam berusaha merebut ibu kota kerajaan, tetapi usahanya belum berhasil dan akhirnya tentara Islam memperoleh kemenangan pada tahun 1559 M. Serangan – serangan itu dipimpin langsung oleh Maulana Hasanuddin yang dibantu oleh anaknya, Maulana Yusuf.
Di dalam Carita Parahyangan dan naskah Purwaka Caruban Nagari dikatakan bahwa sekitar abad XV Masehi, di Cirebon telah ada perguruan Islam, jauh sebelum Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dilahirkan. Pada masa itu memang diduga Cirebon sudah merupakan sebuah kota yang cukup ramai, dengan penduduknya campuran antara orang – orang Sunda dan orang – orang Jawa.
Jatuhnya Sunda Kelapa, pelabuhan terbesar keajaan Sunda ke tangan pasukan Islam pada tahun 1527 M, telah menyebabkan terputusnya hubungan antara pusat kerajaan Sunda yang terletak di pedalaman, dengan daerah luar. Bala bantuan Portugis tidak pernah dapat sampai ke Dayo, karena keadaan pada waktu itu tidak memungkinkan. Jalan niaga kerajaan Sunda satu persatu jatuh ke tangan pasukan Islam, sehingga raja hanya dapat bertahan di pedalaman.
Dalam keadaan seperti itu, kerajaan Sunda justru sudah tidak punya lagi pemimpin yang meyakinkan. Prabu Ratudewata yang menggantikan Surawisesa, malah hidup sebagai raja pendeta, dan tidak menghiraukan kesejahteraan rakyatnya. Pada masa pemerintahannya itulah terjadi serangan – serangan yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Raja penggantinya yakni Sang Ratu Saksi yang merupakan seorang yang kejam dan suka main perempuan. Demikian pula pengganti Sang Ratu Saksi, Tohaan di Majaya yang malah memperindah keraton, mabuk – mabukan, berfoya – foya, dan melupakan tugasnya sebagai  raja. Pada masa pemerintahan raja terakhir yakni Nusiya Mulya, kerajaan pun sudah tidak mungkin dipertahankan lagi. Kerajaan Sunda dikalahkan oleh Islam pada masa akhir pemerintahannya.
Di bidang politik, Jayadewata juga melakukan tindakan – tindakan yang cukup tegas di dalam usahanya menghadapi meluasnya Islam didaerahnya. Ia melakukan hubungan dengan Portugis, yang sejak tahun 1511 M telah menguasai bandar Malaka. Selain untuk menyelamatkan pernaiagaan Sunda, juga hubungan itu dimaksudkan untuk menyelamatkan kerajaan sunda secara umum. Hubungan dengan portugis sudah dimulai pada tahun 1512 M, ketika Jayadewata mengirimkan perutusan yang dipimpin oleh Ratu Samiam (Sanghyang) yang meminta bantuan kepada Alfonso d’Albuquerque, penguasa bandar Malaka. Ratu Samiam untuk kedua kalinya datang ke Malaka pada tahun 1521 M dengan maksud yang sama, tetepi pada waktu itu penguasa Malaka sudah diganti oleh Jorge d’Albuquerque.
Sebagai kunjungan balasan, juga dalam rangka persetujuan diantara kedua belah pihak, pada tahun 1522 M pihak Portugis mengirimkan Hendrik de Leme untuk memimpin perutusan ke Sunda. Jayadewata digantikan oleh Surawisesa  setelah ia berkuasa selama 39 tahun. Pada tahun 1521 M adalah akhir masa pemerintahan Jayadewata menurut perhitungan yang didasarkan pada pada tahun 1579 M sebagai tahun terakhir pemerintahan raja Sunda Nusiya Mulya yang memerintah selama 12 tahun.
Dari berita itu dapat pula dipastikan bahwa Surawisesa menurut Carita Parahyangan adalah Ratu Samiam. Ini berarti bahwa Ratu Samiam sebelum naik takhta mempunyai kedudukan yang cukup tinggi, dan kemungkinan besar sebagai putra mahkota. Sebagai putra mahkota, ia berkuasa di daerah Sangiang, yaitu daerah yang tetrletak di sekitar Jatinegara. Walaupun belum jelas ia anak raja atau bukan, namun dalam hal raja Sunda yang tidak memiliki anak, penggantinya dipilih dari raja – raja daerah yang paling besar dan penting, karena Kalapa adalah bandar kerajaan Sunda yang terpenting dan terbesar sehingga raja daerahnya juga tidak mustahil mempunyai kesempatan terbesar untuk menjadi raja seandainya raja yang bertakhta di Dayo atau Pakwan Pajajaran tidak memiliki anak.
Perjanjian yang diselenggarakan antara Portugis dan Sunda berlangsung ketika Ratu Samiam atau Surawisesa berkuasa. Perjanjian itu terjadi pada tanggal 21 Agustus 1522 M, isinya adalah pernyataan pihak Portugis untuk membantu kerajaan Sunda jika sewaktu – waktu kerajaan ini diserang oleh orang Islam. Sebagai imbalannya, pihak Portugis diperkenankan mendirikan benteng di bandar Banten, dan diberi hak untuk memperoleh lada sebanyak 350 kuintal setiap tahunnya. Dari pihak Sunda yang menandatangani perjanjian tersebuat adalah raja Sanghyang sendiri.
Walaupun sebelumnya sudah ditetapkan bahwa loji Portugis akan didirikan di Banten, kenyataannya mereka memilih Kalapa sebagai tempat yang cocok untuk pendirian loji tersebut. Di tempat yang mereka pilih itu, mereka dirikan sebuah padrao, yang letaknya di tepi sebelah timur muara Sungai Ciliwung. Ternyata benteng atau loji itu tidak pernah berhasil mereka dirikan. Hal ini disebabkan perjanjian tersebut baru tiba di Kalapa pada tahun 1527 M, ketika itu Kalapa sudah dikuasai oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Feletehan. Usaha  - usaha untuk merebutnya dari tangan Islam oleh pihak Portugis tidak pernah berhasil, sehingga benteng portugis itu pun tidak pernah didirikan. Sementara mengharapakan bantuan Portugis yang tidak pernah tiba itu, Surawisesa terpaksa berperang sendiri melawan pasukan Islam.
Masa pemerintahan Surawisesa yang hanya 14 tahun itu (1521-1535 M), ia berperang sabanyak 15 kali, dan tidak pernah mengalami kekalahan. Raja penggantinya yakni Prebu Ratudewata (1535-1543 M), pada masa pemerintahannya benyak sekali tentara musuh yang datang menyerbu, sehingga terjadilah pertempuran. Dalam pertempuran tersebut, gugur Tohaan Sarendet dan Tohaan Ratu Sanghyang. Dapat diperkirakan bahwa Tohaan Ratu Sanghyang yang gugur ini adalah raja daerah Sanghyang yang menggantikan kedudukan Surawisesa setelah ia menjadi raja pusat. Kekacauan itu meliputi daerah yang cukup luas sehingga terjadi juga di Ciranjang dan Sumedang, sementara daerah kependetaan yang diresmikan oleh Ratu Jayadewata di Jayagiri dibenamkan ke laut.
Pada masa Sang Ratu Saksi, Carita Parahyangan tidak memberikan uraian terjadinya perang. Namun jika diingat, bahwa pada tahun 1546 M seluruh kekuatan kerajaan Demak dikerahkan untuk menyerbu dan menaklukkan Pasuruan. Demak juga mengikutsertakan armada Banten dan Cirebon yang dipimpin oleh Ki Fadhillah yang ketika itu sudah diangkat menjadi raja di Kalapa sebagai wakil Sultan Demak. Sang Ratu Saksi yang berkuasa selama 8 tahun itu (1543-1551 M) meninggal di Pengpelangan, kemudian digantikan oleh Tohaan di Majaya (1551-1567 M). Karena kalah perang, raja ini kemudian meninggalkan ibu kota kerajaan walaupun sebelumnya ia telah memperindah keraton.
Pada masa pemerintahan raja yang terakhir yakni Nusiya Mulya, keadaan sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Perubahan ditengah penduduk makin terasa, terutama yang disebabkan oleh datangnya Islam. Pada masa pemerintahannya itulah Islam mulai memperoleh kemenangan demi kemenangan dalam perang – perang yang dilakukannya. Satu persatu daerah Rajagaluh, Kalapa, Pakwan, Galuh, bahkan Portugis berhasil dikalahkan oleh Islam. Bersamaan dengan itu, tamat pula riwayat kerajaan Sunda sebagai salah satu benteng terakhir budaya Hindu-Buddha di Indonesia pada tahun 1579 M.

      2.            KEADAAN MASYARAKAT DI BIDANG KESENIAN
             Di dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian dapat diketahui adanya orang-orang yang dipandang ahli disalah satu bidang kesenian, misalnya sastra, lukis, ukir, dan gamelan. Orang yang mengetahui berbagai macam cerita disebut memen, sedangkan cerita – cerita yang diketahuinya antara lain Damarjati, Sanghyang Bayu, Pu Jayakarma, Ramayana, Adiparwa, Ranggalawe, Tantri, dll.
                        Jenis – jenis kawih seperti kawih bwatuha, kawih panjang, kawih lalanguan, dll. Ada juga macam – macam permainan yang disebut pameceuh yakni tatapukan, ubang-ubangan, ngadu lesung, ngadu nini, dll. Ada pula carita pantun yang merupakan cerita asli berasal dari Sunda dengan ahlinya disebut prepantun, dan pantun – pantunnya yaitu Langgalarang, Banyakcatra, Hatur Wangi, dan Siliwangi.
                        Mengingat bahwa pada awal abad XVI M Siliwangi sudah dikenal sebagai salah seorang tokoh dalam carita pantun, ada kemungkinan bahwa Prabu Siliwangi adalah raja terbesar kerajaan Pajajaran menjelang masuknya Islam. Namun tidak ada satupun sumber sejarah yang menyebutkan salah seorang raja Sunda bernama Prabu Siliwangi. Niskala Wastu Kancana yang sudah meninggal 40 tahun sebelum naskah ini ditulis itulah yang mungkin dianggap sebagai Siliwangi.
            Jenis – jenis batik adalah kekembangan, alas-alasan, urang-urangan, kembang terate, dll. Ahlinya disebut lukis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar