Jumat, 29 November 2013

ARTIKEL


TRADISI PENGUBURAN DI BEBERAPA DAERAH SEBAGAI SISA-SISA KEHIDUPAN PRASEJARAH DI MASA SEKARANG

Intan Febri Layyinah
Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Malang
E-mail  : layyinahfebry@yahoo.co.id

Abstrak                        : Penguburan menjadi salah satu tradisi prasejarah yang masih banyak kita jumpai di masa kini, penguburan tradisional bisa kita temui di daerah pedalaman yang masih sangat menjunjung tinggi kehidupan nenek moyang, daerah-daerah perbatasan yang belum terkena pengaruh modernisasi, penguburan menjadi salah satu tradisi yang menarik untuk diteliti, karena tradisi penguburan ditiap-tiap daerah berbeda.
Kata Kunci      : Penguburan, bekal kubur, dolmen.

Penguburan pada umumnya masih dilakukan dengan langsung dan tidak langsung, menggunakan wadah atau tanpa wadah. Wadah yang dipergunakan dapat dibuat dari bahan kayu atau kayu utuh yang dilubangi: batu tempayan, kubur silindris, batu besar yang dilubangi, dolmen,peti kubur, dan lain-lain yang disimpan di dalam ceruk, gua, batu besar yang dibuat ceruk, dan sebagainya.

Jika ada yang meninggal, setelah upacara pemandian, mayat dibungkus dengan kain adat secara berlapis-lapis dan pada umumnya diberikan oleh para kerabat atau teman dekat. Kemudian mayat disimpan di dalam sebuah peti kayu atau anyaman atau diletakkan di suatu tempat tertentu. Sementara itu, seluruh keluarga dan handai taulan menyiapkan upacaranya. Jika akan dikuburkan secara langsung, setelah seluruh upacara dan sesaji siap,mayat langsung dikuburkan ke dalam tanah (tanpa wadah), kubur dari batu atau kayu. Penguburan langsung dilakukan dengan meletakkan yang meninggal dalam posisi membujur atau terlipat seperti yang terdapat di Sabu, Ngada, Timor, Seram, Aru, Batak Nias, Kayan, Bolaang-Mongondow, Adonara, Lembata, Sumba, dan Toraja.

TRADISI PENGUBURAN DI BALI
Di Desa Pacung, Kabupaten Buleleng, Bali, kematian dianggap suatu perjalanan pulang menuju Embang,yakni tempat tinggal para arwah. Atas dasar pandangan ini, kematian dan kelahiran telah ditentukan oleh Sang Hyang Embang, upacara penguburan tidak perlu mencari waktu yang baik. Orang yang meninggal pagi, harus dikubur besok paginya. Kecuali jika ada keluarga dekatnya yang belum hadir, ditunggu sampai batas waktu tiga hari. Sebelum dikubur, mayat dimandikan dan diberi pakaian adat secara lengkap dan dirias dengan rapi. Kemudian si mati diberi sesaji berupa makanan dan minuman secara lengkap. Setelah selesai diupacarai, mayat dibawa ke kuburan bersama-sama makanan dan minuman yang tadi disajikan. Mayat dikuburkan dalam keadaan telanjang dan hanya beralaskan daun jambu hutan (klampuak), orientasi mayat timur-barat. Upacara seperti ini juga masih dilakukan di Desa Munduk Lumbang, Kecamatan Baturinci, Kabupaten Tabanan. Pada saat penguburan ini, keluarganya dapat memberikan bekal kubur berupa barang yang dipakai atau disenangi semasa hidupnya. Meskipun masyarakat Bali pada umumnya adalah pemeluk agama hindu yang taat, namun tradisi-tradisi tersebut juga masih bisa ditemui.

TRADISI PENGUBURAN DI NUSA TENGGARA TIMUR
Di Nusa Tenggara Timur, penguburan dapat dilakukan dalam peti kubur batu, dolmen, kubur teras, kubur tanpa wadah, tempayan tanah liat, dan sebagainya. Penguburan ini dapat dilakukan secara langsung. Penguburan secara langsung biasanya dilakukan jika keluarga telah memiliki makam atau kubur yang sudah siap. Dasar dari kubur-kubur ini sesungguhnya adalah kubur silindris atau bentuk sumuran, yaitu lubang yang dibuat silindris atau sumuran kemudian dindingnya diberi batu-batu. Di atas kubur silindris ini diberi atap dari batu lempengan atau batu utuh, yang dibentuk persegi empat atau oval. Atap batu disangga oleh kaki-kaki dari batu yang jumlahnya tidak sama (4, 6, 8) dan ada yang tanpa kaki. Kubur seperti ini pada umumnya disebut dolmen atau reti (dalam bahasa Sumba) atau rate (dalam bahasa Ende).
Bentuk kubur yang lain adalah kubur silindris tadi kemudian dikelilingi oleh susunan batu yang dapat membentuk suatu lingkaran, segi empat, atau persegi penjang. Kubur silindris ini juga dapat dibuat berteras atau berundak. Undak-undak ini dapat dibentuk simetris, atau ada tambahan teras atau undak lain di sudutnya, atau berundak tetapi membentuk empat persegi panjang. Di atasnya terdapat dolmen yang berfungsi sebagai kubur.
Model penguburan yang lain adalah dengan meletakkan yang meninggal di atas sebuah pondok atau para-para. Jenazah ini juga diberi bekal kubur, biasanya berupa benda yang mereka gunakan selama hidup, seperti korek api, topi, tas, keranjang, periuk, senjata tajam, makanan dan minuman. Penguburan seperti ini juga dapat ditemui di Seram, Kalimantan Barat, dan Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi.

TRADISI PENGUBURAN DI KALIMANTAN TENGAH
Di Suku Dayak Ngaju, penguburan cara pertama dilakukan dengan meletakkan peti mati kedalam tanah, dengan diberi bekal kubur berbagai benda yang semasa hidup digunakan. Di atas kubur ini, didirikan tiang untuk menunjukkan bahwa disitu ada kubur. Setiap sudutnya diberi tiang kecil yang diberi sobekan kain. Cara kedua adalah dengan meletakkan mayat ke dalam peti kayu, kemudian peti ini diletakkan di sebuah tempat yang disangga oleh tiang-tiang yang tinggi. Pada dasar peti dilubangi yang dihubungkan ke dalam tanah dengan pipa dari bambu, tujuannya untuk mengalirkan air ke dalam tanah. Cara ketiga adalah dengan membakar mayat, kemudian tulang-tulangnya dikumpulkan ke dalam tempayan atau peti kayu. Setelah upacara penguburan ini selesai, keluarga mengadakan upacara penguburan pertama (tantolaki mantei). Setelah upacara ini selesai, keluarganya dapat melakukan kegiatan biasa sambil menunggu upacara besar yang disebut tiwah. Upacara besar atau tiwah diadakan setelah biayanya cukup, dan ini tergantung pada kemampuan keluarga. Pada penguburan kedua ini, tulang-tulang dikumpulkan dan dengan segala macam upacara dimasukkan ke dalam bangunan yang disebut sandong. Bangunan ini dibuat dari kayu ulin dan berbentuk seperti rumah kecil, didirikan atau ditempatkan di atas satu atau lebih tangga penyangga.

TRADISI PENGUBURAN DI MALUKU SELATAN, SULAWESI SELATAN DAN PAPUA
Di Maluku Tenggara, penguburan pertama dilakukan dengan meletakkan mayat di atas para-para yang dibuat dari bambu. Setelah menjadi tulang belulang diambil dan dibungkus dengan kain dan dikuburkan di pantai. Kubur ini berbentuk segi empat yang terdiri dari susunan batu koral sehingga membentuk suatu ruangan. Kubur ini dapat dipergunakan untuk satu keluarga. Mereka juga ada yang menguburkan di dalam gua yang berada di pantai dengan diberi bekal kubur.
Di Sulawesi Selatan dan Papua juga menguburkan di dalam gua. Mereka menyimpan mayatnya dalam peti kubur kayu dengan diberi bekal kubur yang pada umumnya berupa benda tanah liat dan kemudian berupa keramik.


DAFTAR RUJUKAN
TIM NASIONAL PENULISAN SEJARAH INDONESIA. 2009. Sejarah Nasional Indonesia Zaman Prasejarah (Jilid I).  Jakarta: Balai Pustaka.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar