TRADISI PENGUBURAN DI BEBERAPA DAERAH
SEBAGAI SISA-SISA KEHIDUPAN PRASEJARAH DI MASA SEKARANG
Intan
Febri Layyinah
Program
Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial
Universitas
Negeri Malang
E-mail : layyinahfebry@yahoo.co.id
Abstrak : Penguburan menjadi
salah satu tradisi prasejarah yang masih banyak kita jumpai di masa kini,
penguburan tradisional bisa kita temui di daerah pedalaman yang masih sangat
menjunjung tinggi kehidupan nenek moyang, daerah-daerah perbatasan yang belum
terkena pengaruh modernisasi, penguburan menjadi salah satu tradisi yang
menarik untuk diteliti, karena tradisi penguburan ditiap-tiap daerah berbeda.
Kata Kunci : Penguburan, bekal kubur, dolmen.
Penguburan pada umumnya masih dilakukan dengan
langsung dan tidak langsung, menggunakan wadah atau tanpa wadah. Wadah yang
dipergunakan dapat dibuat dari bahan kayu atau kayu utuh yang dilubangi: batu
tempayan, kubur silindris, batu besar yang dilubangi, dolmen,peti kubur, dan
lain-lain yang disimpan di dalam ceruk, gua, batu besar yang dibuat ceruk, dan
sebagainya.
Jika ada yang meninggal, setelah
upacara pemandian, mayat dibungkus dengan kain adat secara berlapis-lapis dan
pada umumnya diberikan oleh para kerabat atau teman dekat. Kemudian mayat
disimpan di dalam sebuah peti kayu atau anyaman atau diletakkan di suatu tempat
tertentu. Sementara itu, seluruh keluarga dan handai taulan menyiapkan
upacaranya. Jika akan dikuburkan secara langsung, setelah seluruh upacara dan
sesaji siap,mayat langsung dikuburkan ke dalam tanah (tanpa wadah), kubur dari
batu atau kayu. Penguburan langsung dilakukan dengan meletakkan yang meninggal
dalam posisi membujur atau terlipat seperti yang terdapat di Sabu, Ngada,
Timor, Seram, Aru, Batak Nias, Kayan, Bolaang-Mongondow, Adonara, Lembata,
Sumba, dan Toraja.
TRADISI
PENGUBURAN DI BALI
Di Desa Pacung, Kabupaten
Buleleng, Bali, kematian dianggap suatu perjalanan pulang menuju Embang,yakni
tempat tinggal para arwah. Atas dasar pandangan ini, kematian dan kelahiran
telah ditentukan oleh Sang Hyang Embang,
upacara penguburan tidak perlu mencari waktu yang baik. Orang yang meninggal
pagi, harus dikubur besok paginya. Kecuali jika ada keluarga dekatnya yang
belum hadir, ditunggu sampai batas waktu tiga hari. Sebelum dikubur, mayat
dimandikan dan diberi pakaian adat secara lengkap dan dirias dengan rapi.
Kemudian si mati diberi sesaji berupa makanan dan minuman secara lengkap.
Setelah selesai diupacarai, mayat dibawa ke kuburan bersama-sama makanan dan
minuman yang tadi disajikan. Mayat dikuburkan dalam keadaan telanjang dan hanya
beralaskan daun jambu hutan (klampuak), orientasi mayat timur-barat. Upacara
seperti ini juga masih dilakukan di Desa Munduk Lumbang, Kecamatan Baturinci,
Kabupaten Tabanan. Pada saat penguburan ini, keluarganya dapat memberikan bekal
kubur berupa barang yang dipakai atau disenangi semasa hidupnya. Meskipun masyarakat
Bali pada umumnya adalah pemeluk agama hindu yang taat, namun tradisi-tradisi
tersebut juga masih bisa ditemui.
TRADISI
PENGUBURAN DI NUSA TENGGARA TIMUR
Di Nusa Tenggara Timur,
penguburan dapat dilakukan dalam peti kubur batu, dolmen, kubur teras, kubur
tanpa wadah, tempayan tanah liat, dan sebagainya. Penguburan ini dapat
dilakukan secara langsung. Penguburan secara langsung biasanya dilakukan jika keluarga
telah memiliki makam atau kubur yang sudah siap. Dasar dari kubur-kubur ini sesungguhnya
adalah kubur silindris atau bentuk sumuran, yaitu lubang yang dibuat silindris
atau sumuran kemudian dindingnya diberi batu-batu. Di atas kubur silindris ini diberi
atap dari batu lempengan atau batu utuh, yang dibentuk persegi empat atau oval.
Atap batu disangga oleh kaki-kaki dari batu yang jumlahnya tidak sama (4, 6, 8)
dan ada yang tanpa kaki. Kubur seperti ini pada umumnya disebut dolmen atau
reti (dalam bahasa Sumba) atau rate (dalam bahasa Ende).
Bentuk kubur yang lain adalah
kubur silindris tadi kemudian dikelilingi oleh susunan batu yang dapat
membentuk suatu lingkaran, segi empat, atau persegi penjang. Kubur silindris
ini juga dapat dibuat berteras atau berundak. Undak-undak ini dapat dibentuk
simetris, atau ada tambahan teras atau undak lain di sudutnya, atau berundak
tetapi membentuk empat persegi panjang. Di atasnya terdapat dolmen yang
berfungsi sebagai kubur.
Model penguburan yang lain adalah
dengan meletakkan yang meninggal di atas sebuah pondok atau para-para. Jenazah
ini juga diberi bekal kubur, biasanya berupa benda yang mereka gunakan selama
hidup, seperti korek api, topi, tas, keranjang, periuk, senjata tajam, makanan
dan minuman. Penguburan seperti ini juga dapat ditemui di Seram, Kalimantan
Barat, dan Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi.
TRADISI
PENGUBURAN DI KALIMANTAN TENGAH
Di Suku Dayak Ngaju, penguburan
cara pertama dilakukan dengan meletakkan peti mati kedalam tanah, dengan diberi
bekal kubur berbagai benda yang semasa hidup digunakan. Di atas kubur ini,
didirikan tiang untuk menunjukkan bahwa disitu ada kubur. Setiap sudutnya
diberi tiang kecil yang diberi sobekan kain. Cara kedua adalah dengan
meletakkan mayat ke dalam peti kayu, kemudian peti ini diletakkan di sebuah
tempat yang disangga oleh tiang-tiang yang tinggi. Pada dasar peti dilubangi
yang dihubungkan ke dalam tanah dengan pipa dari bambu, tujuannya untuk
mengalirkan air ke dalam tanah. Cara ketiga adalah dengan membakar mayat,
kemudian tulang-tulangnya dikumpulkan ke dalam tempayan atau peti kayu. Setelah
upacara penguburan ini selesai, keluarga mengadakan upacara penguburan pertama
(tantolaki mantei). Setelah upacara ini selesai, keluarganya dapat melakukan
kegiatan biasa sambil menunggu upacara besar yang disebut tiwah. Upacara besar
atau tiwah diadakan setelah biayanya cukup, dan ini tergantung pada kemampuan
keluarga. Pada penguburan kedua ini, tulang-tulang dikumpulkan dan dengan
segala macam upacara dimasukkan ke dalam bangunan yang disebut sandong.
Bangunan ini dibuat dari kayu ulin dan berbentuk seperti rumah kecil, didirikan
atau ditempatkan di atas satu atau lebih tangga penyangga.
TRADISI
PENGUBURAN DI MALUKU SELATAN, SULAWESI SELATAN DAN PAPUA
Di Maluku Tenggara, penguburan
pertama dilakukan dengan meletakkan mayat di atas para-para yang dibuat dari
bambu. Setelah menjadi tulang belulang diambil dan dibungkus dengan kain dan
dikuburkan di pantai. Kubur ini berbentuk segi empat yang terdiri dari susunan
batu koral sehingga membentuk suatu ruangan. Kubur ini dapat dipergunakan untuk
satu keluarga. Mereka juga ada yang menguburkan di dalam gua yang berada di
pantai dengan diberi bekal kubur.
Di Sulawesi Selatan dan Papua
juga menguburkan di dalam gua. Mereka menyimpan mayatnya dalam peti kubur kayu
dengan diberi bekal kubur yang pada umumnya berupa benda tanah liat dan
kemudian berupa keramik.
DAFTAR
RUJUKAN
TIM NASIONAL PENULISAN SEJARAH
INDONESIA. 2009. Sejarah Nasional Indonesia Zaman Prasejarah (Jilid I). Jakarta: Balai Pustaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar