Selasa, 31 Desember 2013

Makalah Konseptual



PERAN MUHAMMADIYAH TERHADAP PERKEMBANGAN KEAGAMAAN DAN PENDIDIKAN DI INDONESIA






MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Bahasa Indonesia Keilmuan
Yang dibina oleh Dr. Kusubakti Andajani, M.Pd. dan Muyassaroh, S.S., S.Pd.






Oleh
Intan Febri Layyinah
130731615706








UM Malang
 



 












UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN SEJARAH
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN SEJARAH
Desember 2013


PERAN MUHAMMADIYAH TERHADAP PERKEMBANGAN KEAGAMAAN DAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

1.      Pendahuluan
1.1.     Latar Belakang
Muhammadiyah adalah Gerakan Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah Rosul dan bertujuan untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat yang sebenar-benarnya yakni masyarakat yang utama, adil, dan makmur yang diridhoi Allah SWT (Nashir, 2010:55). Dalam mewujudkan masyarakat yang sebenar-benarnya inilah K.H. Ahmad Dahlam berinisiatif untuk mengembangkan jangkauan Muhammadiyah dalam berbagai aspek kahidupan yang ada. Melihat kondisi umat islam pada masa itu, semakin membuat K. H. Ahmad Dahlan termotivasi untuk membangun sebuah gerakan islam yang mengajak untuk memurnikan ajaran Islam.
Latar belakang berdirinya Muhammadiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 yang bertepatan dengan tanggal 18 November 1912 berawal dari kemunduran umat Islam dibidang keagamaan dan pendidikan pada masa itu yang sangat memprihatinkan. Umat Islam mulai meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai satu-satunya rujukan dalam mengamalkan ajaran Islam (Dahlan dalam Pasha, 2000:71). Lembaga-lembaga pendidikan agama juga belum memiliki peran yang cukup efektif bagi kemajuan pendidikan secara umum, sementara pendidikan umum hanya boleh dirasakan oleh kaum bangsawan pada masa itu. Seperti yang dikatakan K. H. Ahmad Dahlan, bahwa kemajuan ilmu agama yang baik harus disertai pula dengan pendidikan yang berkualitas. Semua orang berhak menerima ilmu agama maupun ilmu pengetahuan yang seimbang dan tidak ada sekat dalam pemberiannya.
Muhammadiyah adalah suatu Gerakan Islam yang oleh masyarakat luas dikenal sebagai suatu organisasi Islam yang memiliki amal usaha yang banyak dan beraneka ragam, diantaranya yang paling berpengaruh yakni dalam bidang keagamaan dan pendidikan. Muhammadiyah memiliki peran yang sangat besar dibidang keagamaan di Indonesia, begitu pula peran Muhammadiyah untuk membantu mencerdaskan generasi penerus bangsa yang tidak perlu diragukan lagi.
Namun masih banyak masyarakat yang belum sadar bahwa Muhammadiyah memiliki peran yang cukup besar bagi kemajuan bangsa Indonesia, terutama dibidang keagamaan dan pendidikan. Banyak yang menganggap bahwa Muhammadiyah hanyalah organisasi Islam kemasyarakatan saja, padahal jika ditelaah lebih lanjut, peran terbesar Muhammadiyah bagi Indonesia adalah dari segi keagamaan dan pendidikannya, keberanian Muhammadiyah untuk berbeda pendapat tentang penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawal sering dianggap sebagai suatu bentuk ketidakhormatan terhadap keputusan negara, padahal jika diteliti lebih lanjut, inilah salah satu bentuk kemajuan dalam bidang keagamaan dan pendidikan , perpaduan antara ilmu pengetahuan dan pendidikan yang baik yang dapat disumbangkan ke dalam unsur penting keagamaan.
Bertolak dari sinilah perlu diadakan identifikasi seberapa besar dan berpengaruhnya peran Muhammadiyah terhadap kemajuan dalam bidang keagamaan dan pendidikan di Indonesia dari awal berdirinya sampai 101 tahun usianya kini. Sumbangsih apa saja yang sudah diberikan Muhammadiyah untuk bangsa Indonesia terutama dalam bidang keagamaan dan pendidikan di Indonesia.

1.2.     Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini dijabarkan sebagai berikut.
1.    Bagaimana ideologi Muhammadiyah dibidang keagamaan dan pendidikan?
2.    Bagaimana peran Muhammadiyah terhadap perkembangan keagamaan di Indonesia?
3.    Bagaimana peran Muhammadiyah terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia?



1.3.     Tujuan penulisan makalah
Adapun tujuan dalam makalah ini diuraikan sebagai berikut.
1.    Untuk menjelaskan ideologi Muhammadiyah dibidang keagamaan dan pendidikan
2.    Untuk mendeskripsikan peran Muhammadiyah terhadap perkembangan keagamaan di Indonesia
3.    Untuk mendeskripsikan peran Muhammadiyah terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia

2.      Pembahasan
2.1.       Ideologi Muhammadiyah di bidang keagamaan dan pendidikan
Dalam Muhammadiyah, ideologi adalah “keyakinan dan cita-cita hidup”  sebagaimana yang terkandung dalam Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (H.M. Djindar Tamimy dalam Nashir, 2010:246). Dapat disimpulkan bahwa ideologi Muhammadiyah adalah seperangkat pemikiran dan perjuangan untuk mewujudkan paham Islam dan memperjuangkan terwujudnya cita-cita hidup Muhammadiyah. Ideologi bukan hanya sekedar paham tetapi juga sistem perjuangan untuk mewujudkan paham tersebut dalam kehidupan.
Sehingga dapat dikatakan ideologi Muhammadiyah adalah sistem keyakinan, cita-cita, dan perjuangan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Adapun isi kandungan ideologi Muhammadiyah  tersebut, adalah Paham Islam atau paham agama dalam Muhammadiyah, Hakikat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dan Misi, Fungsi, dan Strategi perjuangan Muhammadiyah (Nashir, 2010: xvi). Jika dipahami secara mendalam, ideologi Muhammadiyah mencakup seluruh jatidiri muhammadiyah sebagai suatu gerakan Islam, tidak hanya mencakup strategi perjuangan di dalam keagamaan, tetapi juga keseluruhan, diantaranya pendidikan, kesehatan, bahkan politik.
Sebagai gerakan keagamaan, muhammadiyah sesuai dengan jatidirinya senantiasa istiqamah untuk menunjukkan komitmen yang tinggi dalam memajukan kehidupan umat Islam sebagai wujud dari ikhtiar menyebarluaskan Islam yang bercorak rahmatan lil-‘alamin (Nashir, 2010:240). Hal ini dibuktikan dengan banyaknya masjid, musholla dan dakwah yang dilakukan  Muhammadiyah dalam berbagai bentuk kegiatan pembinaan umat yang meluas di seluruh pelosok tanah air. Muhammadiyah tak pernah berhenti melakukan peran-peran keagamaan dalam dinamika nasional dan global. Kiprah Muhammadiyah tersebut menunjukkan bukti nyata kepada masyarakat bahwa misi gerakan Islam yang diembannya bersifat amaliah untuk kemajuan dan pencerahan yang membawa pada kemaslahatan masyarakat yang seluas-luasnya.
Misi dakwah Muhammadiyah yang mendasar itu merupakan perwujudan dari semangat awal persyarikatan ini sejak didirikannya dan dijiwai oleh pesan Allah dalam Al-Qur’an surat Ali-Imron 104, yang artinya: “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Prinsip dakwah Muhammadiyah adalah dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dakwah yang demikian mengandung makna bahwa Islam sebagai ajaran yang bersifat kemajuan, kebaikan, kebenaran, keadilan, dan nilai-nilai keutamaan lainnya untuk kemaslahatan serta keselamatan hidup umat manusia tanpa membeda-bedakan ras, suku, golongan, agama, dan lain-lain.
Selain kewajiban berdakwah amar ma’ruf nahi munkar, setiap warga muhammadiyah juga wajib untuk menguasai dan memiliki keunggulan dalam kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana kehidupan yang penting untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, serta sebagai jembatan untuk mewujudkan cita-cita dan perjuangan gerakan Muhammadiyah. Karena keistimewaan itulah, Muhammadiyah berusaha sebaik mungkin untuk mewujudkan kewajiban-kewajiban tesebut dalam berbagai bidang yang menjadi lahan perjuangan Muhammadiyah.
Setiap warga muhammadiyah harus memiliki sifat-sifat ilmuwan, yaitu: kritis, terbuka menerima kebenaran dari menapun datangnya, serta senantiasa menggunakan daya nalar (Nashir, 2010:149). Kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari iman dan amal shalih yang menunjukkan derajat kaum muslimin dan membentuk pribadi ulul albab.
Menggairahkan dan menggembirakan gerakan mencari ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi, baik melalui pendidikan maupun kegiatan-kegiatan di lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai sarana penting untuk membangun peradaban Islam. Dalam kegiatan ini termasuk menyemarakkan tradisi membaca di seluruh lingkungan warga Muhammadiyah. Kesadaran inilah yang membuat Muhammadiyah berani untuk membangun pencetak tenaga didik yang dinaungi oleh Muhammadiyah untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa.
Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki, setiap warga Muhammadiyah memiliki kewajiban untuk mengajarkan kepada masyarakat, memberi peringatan, memanfaatkan untuk kemashlahatan dan mencerahkan kehidupan sebagai wujud ibadah, jihad, dan dakwah. Karena itulah Muhammadiyah berjuang di bidang pendidikan melalui sekolah-sekolah yang dimiliki oleh Muhammadiyah mulai dari PAUD, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, bahkan sampai Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Hal ini juga merupakan bentuk kontribusi Muhammadiyah kepada bangsa Indonesia, tak hanya itu, Muhammadiyah juga memiliki ikatan yang sangat erat dengan para alumni lembaga pendidikannya, hal ini dibuktikan dengan dijaminnya lulusan dari lembaga Muhammadiyah untuk bekerja dan mengabdi kembali kepada Muhammadiyah.

2.2.     Peran Muhammadiyah terhadap perkembangan keagamaan di Indonesia
Telah diketahui bahwa Muhammadiyah didirikan oleh K.H.A. Dahlan sebagai hasil dari mempelajari dan mengkaji ayat-ayat Al-Quran, khususnya ketika mengkaji surat Ali Imron ayat 104, maka akhirnya dengan dukungan dari berbagai pihak, akhirnya lahirlah persyarikatan Muhammadiyah sebagai bentuk konkret dari amalan yang terandung dalam ayat tersebut (Pasha, 2000:113). Sehingga ayat ini menjadi ayat yang sangat identik sekali dengan pendirian Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah 1330 H yang bertepatan dengan 18 November 1912 M.
Dari latar belakang berdirinya Muhammadiyah seperti yang sudah dijelaskan diatas, dapat disimpulkan bahwa bidang agama merupakan pusat seluruh kegiatan Muhammadiyah. Sehingga seluruh kegiatan Muhammadiyah di bidang  pendidikan, soial, kesehatan, maupun perekonomian tidak dapat dipisahkan dari jiwa, dasar, dan semangat keagamaan yang menjadi dasar kegiatan tersebut. Tegasnya Gerakan Muhammadiyah hendak berusaha untuk menampilkan wajah Islam dalam wujud yang nyata, dapat dihayati, dirasakan, dan dinikmati oleh umat sebagai “rahmatan lil ‘alamin” dalam setiap langkah yang dijalani Muhammadiyah.
Gerakan Muhammadiyah berkiprah di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia dengan membangun berbagai amal usaha yang benar-benar menyentuh hajat orang banyak , seperti membangun rumah sakit, panti asuhan, lembaga pendidikan dan majelis yang bergerak di bidang keagamaan dengan niat dan tujuan untuk dijadikan sebagai media dakwah agama Islam. Hal ini diwujudkan dengan terbentuknya Majelis Tabligh Muhammadiyah yang bertugas untuk mempergiat dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi ciri dari dakwah Muhammadiyah dan bertugas untuk memperteguh iman dan memperkuat ibadah serta mempertinggi akhlak mulia.
Sifat tajdid juga dikenakan oleh Muhammadiyah pada setiap gerakannya sebagai upaya untuk melakukan pembaharuan terhadap pelaksanaan ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Terdapat dua pengertian tajdid menurut Muhammadiyah, yaitu sebagai pemurnian (purifikasi) dan pembaharuan (reformasi). Sehingga Muhammadiyah dapat dinyatakan sebagai Gerakan Purifikasi dan Gerakan Reformasi.
Dibentuknya Majelis Tarjih dibentuk sebagai suatu badan yang dipercaya untuk mengeluarkan fatwa, diharapkan bahwa majelis ini akan menjaga agar pelanggaran terhadap keputusan-keputusan yang dikeluarkan tidak terjadi karena majelis ini memberikan kelapangan atas perbedaan pendapat. Perbedaan-perbadaan tersebut akan diselesaikan melalui musyawarah sampai tercapainya mufakat atau kesepakatan bersama (Anshoriy, 2010:117-118). Dapat disimpulkan bahwa terbentuknya Majlis Tarjih pada tahun 1927 M dijadikan sebagai suatu lembaga yang menghimpun ulama-ulama dalam Muhammadiyah yang secara tetap mengadakan permusyawaratan dan memberi tuntunan mengenai hukum yang sangat bermanfaat bagi masyarakat Muhammadiyah maupun masyarakat umum, seperti memberi pedoman dalam penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri dengan metode Hisab atau Astronomi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern yang sudah terbukti kebenarannya.
Sebagai pelopor kebangkitan Islam di Indonesia, Muhammadiyah memikul tugas moral yang tidak hanya brlaku di masa lalu, namun juga menjadi pelopor di masa sekarang dan masa yang akan datang. Muhammadiyah berusaha mengembalikan ajaran islam yang sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah dan diaplikasikan dengan kegiatan dakwah maupun pengajian-pengajian yang diadakan Muhammadiyah.
Bentuk-bentuk kontribusi Muhammadiyah dalam perkembangan keagamaan di Indonesia adalah sebagai berikut:
2.2.1.      Mempelopori sholat Idul Fitri dan Idul Adha di lapangan
Muhammadiyah menjadi pelopor utama untuk melakukan sholat Ied di lapangan, bukan di masjid. Hal ini dilakukan sesuai dengan yang diajarkan Rosul, sebab pada zaman itu shalat Ied dilaksanakan di lapangan shakra yang letaknya kira-kira 300 meter dari masjid Nabi. Laki-laki, perempuan, dan anak-anak, bahkan perempuan haid yang haram sholat pun diwajibkan hadir karena disanalah dilaksanakan pertemuan dan silaturrahim supaya ukhuwah tetap terpelihara dengan baik. Sebab silaturrahim haram diputus dalam islam, sehingga sholat Ied di lapangan dapat menjadi pertemuan dua kali dalam setahun yang dapat memberikan hikmah dalam setiap ibadah.
Namun berabad-abad setelah Nabi Muhammad wafat, umat Islam tidak lagi melaksanakan sholat Ied di lapangan, melainkan di masjid. Muhammadiyah kemudian mempelopori penyelenggaraan kembali sholat Ied di lapangan, karena faktanya masjid selalu tidak cukup untuk menampung umat sebanyak itu. Penggunaan lapangan untuk sholat Ied ini harus mendapatkan izin dari Pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, namun dengan kemudahan yang diberikan Allah, Muhammadiyah tetap bisa menjalankannya. Sampai sekarang pembaharuan ini masih berlangsung dan mengalami perkembangan yang pesat karena tidak hanya warga muhammadiyah yang datang ke lapangan, namun masyarakat umum yang lain juga ikut berbondong-bondong datang ke lapangan untuk sholat Ied di lapangan.
2.2.2.      Mempelopori pembetulan arah kiblat dan metode astronomi
Muhammadiyah menjadi pelopor dalam pembetulan arah kiblat di semua musholla dan masjid di Indonesia. Arah kiblat yang sebelumnya menghadap ke barat, perlahan di ubah menjadi menghadap barat daya, karena arah hadap ke barat menghadap ke Afrika Selatan bukan menghadap ke Ka’bah.
Selain itu, Muhammadiyah juga melakukan perhitungan hisab untuk menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan. Muhammadiyah mengadakan perubahan dalam penentuan awal bulan Qamariyah. Dengan demikian dapat ditentukan saat-saat Idul Fitri dan Idul Adha serta waktu sholat fardhu, imsak, dan berbuka puasa dengan tepat. Awalnya usaha ini mendapat tantangan dari masyarakat, tetpai akhirnya justru banyak pihak yang menggunakan hisab. Pemakaian hisab menjadi umum dan banyak kalender yang diterbitkan dengan perhitungan hisab.
2.2.3.      Mempelopori pendirian masjid dan musholla khusus perempuan
Segi lain dari bentuk perjuangan Muhammadiyah adalah dengan mendirikan musholla khusus untuk perempuan. Musholla untuk perempuan pertama kali didirikan pada tahun 1922 di Kauman, Yogyakarta. Meskipun banyak menuai ejekan, Muhammadiyah tetap menjalankan pendirian musholla dan masjid untuk perempuan dengan maksud sebagai tempat untuk perempuan dalam mengikuti kajian-kajian seputar perempuan di masjid atau musholla yang dikhususkan untuk perempuan, sehingga kajian-kajian tersebut akan dirasa nyaman tanpa ada gangguan dari pengguna masjid atau musholla yang bukan merupakan mahramnya.
2.2.4.      Mempelopori terbentuknya Departemen Agama Republik Indonesia
Terbentuknya Departemen Agama Republik Indonesia tidak bisa dipisahkan dari kepeloporan pemimpin Muhammadiyah. Karena begitu besar peran Muhammadiyah, Menteri Agama yang pertama dipercayakan pada tokoh Muhammadiyah yaitu H. Moch. Rasyidi B.A.
Muhammadiyah juga mempelopori Depertemen Agama RI untuk menyempurnakan pengangkutan dan pengurusan jamaah haji Indonesia yang diusulkan oleh K.H. Syuja’ dan sampai sekarang umat Islam bisa menikmati hasil dari usulan tersebut. Serta banyak bukti lain yang membuktikan bahwa Muhammadiyah memiliki peran yang penting dalam perkembangan agama Islam di Indonesia.

2.3.     Peran Muhammadiyah terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia
Selain bergerak di bidang keagamaan, Muhammadiyah juga memiliki perhatian pada bidang pendidikan. Berbeda dengan organisasi keagamaan lainnya yang lebih banyak mendirikan pondok pesantren, madrasah diniyah, atau semacamnya, Muhammadiyah lebih memilih untuk mendirikan sekolah-sekolah umum seperti SD, SMP,SMA, maupun perguruan tinggi. Hal ini dilakukan karena lembaga-lembaga pendidikan Islam dan pondok pesantren dinilai gagal dalam mencetak kader-kader Islam yang dapat memenuhi tuntutan zaman.
Dengan kebijakan tersebut, Muhammadiyah mampu menyaingi lembaga pendidikan non Islam, terutama lembaga pendidikan yang dimiliki Belanda. Karena hanya golongan-golongan tertentu saja yang dapat merasakan pendidikan formal, dan belum ada lembaga formal yang berdasarkan Islam sebagai landasan, namun tidak tertinggal dengan perkembangan zaman dan menjelma menjadi lembaga pendidikan Islam yang menciptakan kader-kader Islam yang kuat dan berkualitas.
Sekolah jenis pertama yang didirikan di ibu kota karesidenan atau kota pusat perdagangan dan kerajinan, yakni Yogyakarta. Pemerintah Hindia Belanda mendirikan tiga sekolah OSVIA di Bandung, Magelang, dan Probolinggo dengan tujuan untuk mendidik calon pamong praja. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan guru, didirikan tiga sekolah guru di Bandung, Yogyakarta, dan Probolinggo (Anshoriy, 2010:80). Perlu diketahu bahwa sekolah-sekolah yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda tidak untuk mencerdaskan orang-orang Indonesia, namun untuk memenuhi kebutuhan Pemerintah Hindia Belanda dan investor asing yang membutuhkan tenaga kerja yang murah namun berkualitas. Inilah yang mendorong K.H. Ahmad Dahlan untuk serius mendirikan lembaga pendidik yang benar-benar bertujuan untuk mendidik dan mencerdaskan penduduk pribumi.
Lembaga-lembaga pendidikan Islam pada abad ke-20 juga perlu untuk disempurnakan kembali karena bentuk dan isinya yang tidak sesuai dengan tujuan akan dicapai. Karena dirasakan atau tidak, kenyataannya adalah lembaga-lembaga pendidikan terbagi menjadi dua, yaitu pendidikan pesantren dan pendidikan sekolah. Pendidikan Pesantren dijalankan dengan sistem pengajaran yang hanya berhubungan dengan keagamaan saja dan tidak diajarkan ilmu pengetahuan umum. Cara pengajarannya yaitu dengan menggunakan metode ceramah dan mengkaji kitab. Jika dinilai dari segi agama, cara pengajaran semacam ini memang sangat bermanfaat untuk mempertebal kekuatan iman, namun hal itu tidak cukup karena bangsa ini juga butuh orang-orang yang tidak hanya menguasai agama dengan baik, namun juga keseimbangan antara menguasai ilmu pengetahuan umum dan juga ilmu agama. Sistem pendidikan sekolah kebanyakan dijalankan oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan umum yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang memadai, namun karena tidak diajarkannya pendidikan moral, maka sistem pendidikan sekolah dirasa sangat banyak memiliki kekurangan.
Dalam menyikapi sistem pengajaran yang baik, Muhammadiyah telah mengadakan pembaharuan sistem pendidikan yang menjadi pedoman dalam menjalankan pengajaran di sekolah-sekolah Muhammadiyah, yakni dengan menjalankankan sistem pengajaran yang tidak hanya mengajarkan pendidikan agama, tetapi juga mengajarkan pendidikan ilmu pengetahuan umum. Bahkan Muhammadiyah mengaplikasikan kesesuaian antara ilmu pengetahuan umum tersebut dengan ilmu pengetahuan agama, sehingga sekolah-sekolah Muhammadiyah memiliki keseimbangan antara mengajarkan IMTAQ dengan baik dan membangun IPTEK yang sesuai dengan tuntutan zaman. Penerapan sistem pendidikan Muhammadiyah ini ternyata membawa hasil yang tidak ternilai harganya bagi kemajuan bangsa indonesia Umumnya, dan umat Islam khususnya.
Kenyatannya karena keunggulan lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah, pada tahun 1990-an Muhammadiyah telah berkembang pesat di bidang pendidikan dengan memiliki 6.177 lembaga pendidikan yang terdiri dari 1.500 TK, 2.172 SMP, 992 SMA, 13 sekolah muslimat, 39 pusat Islam tradisional, 5 sekolah untuk pendidikan khusus, dan 114 universitas (Anshoriy, 2010:87). Dengan banyaknya lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah inilah kemudian Muhammadiyah memiliki slogan dalam amal usahanya di bidang pendidikan, yaitu “Dari Muhammadiyah Untuk Bangsa”.
Slogan tersebut dimaksudkan bahwa kontribusi lembaga pendidikan Muhammadiyah memiliki peran yang besar dalam kemajuan bengsa Indonesia, diantaranya adalah banyaknya lulusan lembaga pendidikan Muhammadiyah yang memiliki pengaruh yang besar di Indonesia, diantaranya adalah Amien Rais dan Syafi’i Ma’arif. Amien Rais sebagai bapak reformasi Indonesia yang menjadi ketua MPR pada saat penggulingan Orde Baru dan melakukan reformasi atau pembaharuan kepada bangsa Indonesia setelah lama dikuasai oleh Orde Baru. Syafi’i Ma’arif sebagai salah satu cendekiawan muslim yang sangat disegani karena pemikirannya yang kemudian membentuk Ma’arif Institute sebagai buah dari pemikiran-pemikiran cendekiawan untuk menjadikan Indonesia lebih baik lagi.
Amien Rais mengatakan bahwa manusia-manusia Indonesia yang berpendidikan tinggi adalah mereka yang memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuan dan kompetensinya. Mereka lebih mampu memahami lingkungan dan peluang meraih keuntungan yang ditawarkan oleh teknologi yang semakin canggih (Rais dalam Anshoriy, 2010:139). Dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan pada dasarnya adalah untuk melahirkan generasi-generasi yang melakukan banyak aksi sekaligus memiliki sense of self and life yang kuat. Semua dapat direlisasikan jika semangat “proses” yang menjadi dasar spirit langkah dan renungnya. Karena jika anak didik hanya disuguhi segala sesuatu yang instan dalam dunia pendidikan, maka hasil yang akan didapat adalah generasi yang sedikit aksi kreatif, miskin periksa atau evaluasi, dan berpikir regresif.
Dengan sisitem pendidikan yang dijalankan muhammadiyah, bangsa Indonesia dididik menjadi bangsa yang berkepribadian utuh, tidak terbelah menjadi pribadi yang berilmu umum atau berilmu agama saja. Keseimbangan antara keduanya akan dapat menjadikan bangsa ini memiliki pondasi yang kuat sebagai hasil dari sistem pendidikan yang baik. Sehingga menjadikan bangsa ini tidak tertinggal di bidang teknologi, namun juga memiliki dasar untuk menggunakan teknologi tersebut sesuai dengan batasan dan tuntunan yang sudah diajarkan melalui pendidikan agama.

3.      Penutup
3.1.       Kesimpulan
Perkembangan di bidang keagamaan dan pendidikan di Indonesia memang tidak bisa dilepaskan dari peran Muhammadiyah untuk membantu membangun Indonesia menjadi negara yang berkambang dan memiliki kualitas IPTEK dan IMTAQ yang tinggi. Latar belakang berdirinya Muhammadiyah adalah karena keterbelakangan masyarakat yang masih memegang teguh keyakinan nenek moyang seperti takhayul, bid’ah, dan khurafat yang sangat kental pada waktu itu.
Sehingga misi pembaharuan yang diusung oleh Muhammadiyah sangat membantu mengubah pemikiran masyarakat pada masa itu untuk kembali kepada Al-Quran dan Hadits sesuai dengan apa yang menjadi dasar gerakan Muhammadiyah. Tak hanya dalam bidang agama kontribusi besar yang diberikan Muhammadiyah, namun juga di bidang pendidikan dimana Muhammadiyah memiliki ribuan sekolah dari jenjang TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA hingga perguruan tinggi Muhammadiyah. Hal ini membuktikan betapa Muhammadiyah memiliki keseriusan untuk membantu Indonesia dalam mencetak generasi penerus bangsa yang memiliki kualitas tinggi, tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan umum, tetapi juga menguasai ilmu agama.
Prestasi-prestasi lembaga pendidikan milik Muhammadiyah juga tidak kalah bersaing dengan lembaga pendidikan milik negara maupun milik organisasi yang lain. Karena pedoman gerakan yang dipegang teguh inilah yang menjadikan lembaga-lembaga Muhammadiyah disegani bahkan memiliki pengaruh yang sangat signifikan bagi perkembangan Indonesia, terutama di bidang keagamaan dan pendidikan.



3.2.       Saran
Setelah mengetahui gerakan Muhammadiyah di bidang keagamaan dan pendidikan di Indonesia yang ikut banyak membantu Indonesia menjadi negara yang disegani, inilah saat dimana semangat pembaharuan dan perjuangan menjadi dasar untuk memperbaiki sitem keagamaan dan pendidikan di Indonesia, pemerintah juga diperkenankan untuk memilah dan memilih serta memperhatikan sistem keagamaan dan sistem pengajaran yang ada di Muhammadiyah untuk dijadikan sistem yang di anut pemerintah. Karena Muhammadiyah mampu mengimplementasikan perkembangan jaman terhadap perkembangan keagamaan, sehingga bidang keagamaan dan pendidikannay tidak tertinggal dengan kemajuan zaman.






DAFTAR RUJUKAN

Nashir, Haedar. 2010. Manhaj Gerakan Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah dan Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Pasha, Musthafa Kemal. 2000. Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam. Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI).
Anshoriy, Nasruddin. 2010. Matahari Pembaharuan. Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher.

2 komentar :

  1. Arah Kiblat Indonesia tuh Barat Daya atau Barat Laut ya??

    BalasHapus
  2. Casinos that accept Paypal for Cash at Play Casino
    It has two key benefits: You can 잭팟 play at 스핀토토 slots and casino sites that 승인전화없는 가입머니 accept cryptocurrency win bet win and paypal. This means 토토 사이트 중계 that the payment transactions can be easily

    BalasHapus